STRATEGI MAKAN BUBUR PANAS
by Muhammad Zazuli
by Muhammad Zazuli

Taktik makan bubur panas dari pinggirnya terus dijalankan Pak Tito and team. Satu persatu para penyebar hoax dan fitnah terciduk dan nangis termehek-mehek minta ampun. Yang jadi dalang dan penyandang dana kini mulai panik tidak karuan. Semua saling ngeles dan lempar kesalahan. Kaki tangan yang sudah berjasa membantu mereka mulai tidak diakui hanya agar cari aman dan selamat saja. Buni Yani ditinggalkan terkapar menderita sendirian. Asma Dewi juga tidak diakui dan dibiarkan meringkuk di penjara. Sindikat Saracen juga dilupakan semua jasanya dan harus menanggung hukuman sendirian.
Angin telah berbalik arah. Makin dilawan bakal makin kena tulahnya. Konglomerat dan raja media yang sempat ikutan bikin onar kini sudah terang-terangan berbalik arah mendukung pemerintah. Bahkan duo kampret Senayan sempat ikut-ikutan menjilat Jokowi karena mereka mulai khawatir boroknya dibongkar semua. Bahkan pak Mangkrakpun sudah berusaha mendekati si pemimpin ndeso melalui putra mahkota kesayangannya. Tapi kartu truf untuk menghabisi sang boss besar masih disimpan dan baru akan dikeluarkan jika situasi menjadi gawat dan tak terkendali. Tapi sepertinya hal itu sudah tidak perlu karena impian untuk jadi penguasa sepertinya bakal makin layu sebelum berkembang.
Pilpres 2019 pertarungannya sudah dimulai sekarang. Satu persatu kekuatan musuh sudah dipreteli, ditelanjangi dan dihabisi. Tapi ini adalah langkah yang tepat dan bijak, bukan kebijakan yang semena-mena dan otoriter karena yang dipreteli ini senyatanya adalah benalu yang berbahaya bagi keutuhan negeri. Bubur panas itu kini tinggal tersisa yang ada di tengah-tengah. Tinggal tergantung pak Dhe apakah bakal dilumat habis, dibuang atau dibiarkan begitu saja mendingin dan akhirnya jadi basi dan ditinggalkan orang karena tidak sehat lagi buat dimakan.
Salam Dua Periode
https://web.facebook.com/mohammad.zazuli/posts/1667817056563341
Posting Komentar